Ni Made Sutrisna adalah seorang wanita luar biasa dari Bali yang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap konservasi alam dan pendidikan lingkungan di Pulau Dewata. Lahir pada tahun 1975 di desa kecil di dekat Bedugul, Ni Made tumbuh dengan mencintai alam sekitarnya. Sejak usia muda, ia sudah tertarik dengan tanaman dan keanekaragaman hayati yang melimpah di Bali.
Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah, Ni Made melanjutkan studinya di Fakultas Pertanian Universitas Udayana dengan fokus pada hortikultura. Kecintaannya pada tanaman tumbuh semakin besar selama masa kuliah. Ia sering menghabiskan waktu di berbagai kebun dan hutan di Bali untuk mempelajari flora lokal yang unik dan bagaimana melestarikannya.
Pada tahun 2000, setelah lulus dengan gelar Sarjana Pertanian, Ni Made mulai bekerja sebagai staf peneliti di Bali Botanic Garden, sebuah kebun raya yang terletak di Bedugul, Tabanan, Bali. Kebun ini adalah salah satu kebun raya terbesar di Indonesia dan memiliki koleksi tanaman yang sangat beragam, termasuk berbagai jenis tanaman obat, anggrek, dan tanaman langka lainnya.
Bali Botanic Garden, yang didirikan pada tahun 1959, adalah rumah bagi lebih dari 2.000 spesies tanaman. Terletak di dataran tinggi Bedugul dengan ketinggian 1.250 - 1.450 meter di atas permukaan laut, kebun ini menawarkan iklim yang ideal untuk berbagai jenis tanaman tropis. Seluas 160 hektar, kebun ini bukan hanya tempat wisata tetapi juga pusat riset, konservasi, dan pendidikan lingkungan.
Ni Made dengan antusias mulai bekerja untuk meningkatkan fungsi Bali Botanic Garden sebagai pusat konservasi dan pendidikan. Salah satu kontribusi awalnya adalah mendokumentasikan berbagai tanaman langka yang terancam punah di Bali dan sekitarnya. Ia menyadari bahwa banyak tanaman lokal Bali yang tidak terdokumentasi dengan baik dan risiko hilangnya pengetahuan tradisional tentang tanaman obat sangat tinggi.
Perjalanan Ni Made tidak selalu mulus. Ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan dana untuk riset hingga kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi. Banyak orang menganggap pekerjaannya tidak penting karena fokus mereka lebih pada sektor pariwisata massal yang menguntungkan secara finansial.
Namun, semangat Ni Made tidak pernah padam. Ia terus berjuang untuk meyakinkan pihak-pihak terkait akan pentingnya pelestarian lingkungan. Ia berani menulis proposal-proposal penelitian untuk mendapatkan hibah internasional dan bekerja sama dengan berbagai lembaga lingkungan nasional maupun internasional.
Pada tahun 2005, Ni Made memulai program inovatif yang disebut "Adopt a Plant" (Adopsi Tanaman). Program ini memungkinkan wisatawan dan masyarakat lokal untuk "mengadopsi" tanaman tertentu dengan memberikan donasi untuk perawatannya. Donatur akan menerima sertifikat adopsi dan informasi tentang tanaman yang mereka adopsi. Program ini tidak hanya meningkatkan kesadaran tetapi juga memberikan pendapatan tambahan untuk keberlanjutan kebun.
Selain itu, Ni Made juga memprakarsai program edukasi lingkungan untuk sekolah-sekolah di sekitar Bedugul. Setiap bulan, ratusan siswa datang untuk belajar tentang tanaman, ekosistem, dan pentingnya menjaga lingkungan. Program ini sangat berhasil dan telah menginspirasi banyak generasi muda untuk peduli lebih pada lingkungan. Melalui program ini, banyak siswa yang kemudian memilih jalur pendidikan di bidang biologi dan konservasi lingkungan.
Salah satu pencapaian terbesar Ni Made adalah pengembangan Taman Obat Tradisional di Bali Botanic Garden pada tahun 2008. Taman ini khusus didedikasikan untuk mengoleksi, melestarikan, dan meneliti tanaman obat yang digunakan dalam pengobatan tradisional Bali. Lebih dari 300 spesies tanaman obat dikumpulkan dari berbagai wilayah di Bali dan Indonesia.
Taman Obat Tradisional ini menjadi pusat penelitian penting bagi para ilmuwan dan peneliti. Banyak studi telah dilakukan untuk mengungkap potensi obat dari tanaman-tanaman tersebut. Ni Made juga bekerja sama dengan para tabib tradisional Bali untuk mendokumentasikan pengetahuan mereka tentang penggunaan tanaman obat. Dokumentasi ini penting agar pengetahuan tradisional tidak hilang di tengah kemajuan modernisasi.
Keahlian dan dedikasi Ni Made mulai diakui secara nasional maupun internasional. Ia aktif dalam berbagai konferensi internasional mengenai konservasi lingkungan dan etnobotani. Pada tahun 2010, ia terpilih menjadi delegasi Indonesia dalam konferensi global tentang konservasi tanaman di Kew Gardens, Inggris.
Kolaborasi internasional ini membawa banyak manfaat bagi Bali Botanic Garden. Kebun ini mendapatkan berbagai jenis tanaman eksotis dari negara lain dan juga mengirimkan tanaman asli Indonesia sebagai bagian dari program pertukaran. Selain itu, banyak peneliti internasional yang datang untuk melakukan riset di Bali Botanic Garden, meningkatkan reputasi kebun sebagai pusat penelitian botani penting di Asia Tenggara.
Atas kontribusinya yang luar biasa, Ni Made menerima berbagai penghargaan. Pada tahun 2013, ia menerima "Kalpataru Award", penghargaan lingkungan tertinggi di Indonesia. Penghargaan ini diberikan oleh Presiden Indonesia sebagai pengakuan atas dedikasinya dalam pelestarian lingkungan.
Tidak hanya itu, pada tahun 2017, Ni Made juga dinobatkan sebagai salah satu "Women of the Year" oleh sebuah majalah wanita terkemuka di Indonesia. Ia dianggap sebagai inspirasi bagi banyak wanita Indonesia yang ingin berkontribusi dalam bidang konservasi lingkungan. Dalam satu wawancara, ia mengatakan bahwa wanita memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam dan melestarikan pengetahuan tradisional.
Karya Ni Made telah memberikan dampak signifikan bukan hanya bagi Bali Botanic Garden tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan di Bali. Program-program yang ia jalankan telah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Banyak petani lokal yang kini mulai menanam kembali varietas tanaman tradisional yang hampir punah, berkat kampanye edukasi yang dilakukan Ni Made.
Bali Botanic Garden kini menjadi salah satu tujuan wisata pendidikan utama di Bali. Setiap tahunnya, lebih dari 200.000 pengunjung datang untuk belajar dan menikmati keindahan alam di kebun ini. Kebun ini juga menjadi rumah bagi berbagai spesies burung dan serangga yang sebelumnya sulit ditemukan di Bali karena perusakan habitat alami mereka.
Hingga saat ini, Ni Made masih aktif bekerja di Bali Botanic Garden. Ia terus berinovasi dan mengembangkan program-program baru untuk meningkatkan fungsi kebun sebagai pusat konservasi, penelitian, dan pendidikan. Ia juga aktif menulis buku-buku tentang tanaman-tanaman langka di Bali untuk memastikan pengetahuannya tidak hilang.
Kisah sukses Ni Made mengajarkan kita bahwa dengan dedikasi, ketekunan, dan cinta pada apa yang kita lakukan, kita dapat membuat perubahan nyata dalam dunia. Ia telah membuktikan bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya penting untuk masa kini tetapi juga warisan berharga untuk generasi mendatang.
Melalui perjuangan Ni Made di Bali Botanic Garden, kita melihat bagaimana satu orang dapat menciptakan dampak yang luas jika memiliki tekad dan dedikasi yang kuat. Karya-karyanya tidak hanya melestarikan alam Bali tetapi juga menginspirasi generasi muda Indonesia untuk peduli pada lingkungan dan kekayaan hayati bangsa.