Bangunan bersejarah dan warisan budaya merupakan aset berharga yang harus dijaga keberadaannya. Salah satu contoh nyata keberhasilan dalam melestarikan warisan budaya adalah kisah I Made Sundana dan perannya dalam menjaga kelestarian Pura Taman Ayun di Bali, Indonesia. Kisah ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk bangga dengan warisan budaya leluhur dan berperan aktif dalam pelestariannya.
I Made Sundana lahir di desa Mengwi, Kabupaten Badung, Bali pada tahun 1965. Ia tumbuh dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi tradisi dan budaya Bali. Sejak kecil, Sundana sudah diperkenalkan dengan berbagai upacara adat dan kegiatan religius yang dilakukan di Pura Taman Ayun yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Pendidikan formal Sundana diselesaikannya di Universitas Udayana dengan mengambil jurusan Arsitektur, namun ia tidak pernah melupakan akar budayanya. Setelah lulus, ia memiliki kesempatan untuk bekerja di berbagai perusahaan konstruksi terkemuka di Indonesia dan luar negeri, namun hatinya selalu tertambat pada tanah kelahirannya dan warisan budaya yang ada di sana.
Pada tahun 1998, Sundana memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Mengwi dan fokus pada pelestarian warisan budaya Bali, terutama Pura Taman Ayun. Keputusan ini sempat menjadi perdebatan di keluarganya yang menginginkan ia tetap bekerja di kota besar dengan penghasilan yang lebih menjanjikan. Namun, keyakinan dan dedikasi Sundana pada akhirnya bisa diterima oleh keluarganya.
Pura Taman Ayun adalah salah satu pura terpenting di Bali yang terletak di Desa Mengwi, Kabupaten Badung. Pura ini didirikan pada tahun 1634 oleh Raja Mengwi, I Gusti Agung Putu, dan berfungsi sebagai pura keluarga kerajaan Mengwi pada masa itu. Nama "Taman Ayun" sendiri berasal dari kata "taman" yang berarti taman dan "ayun" yang berarti indah atau memuaskan, sehingga secara harfiah dapat diartikan sebagai "taman yang indah".
Secara arsitektural, Pura Taman Ayun memperlihatkan pengaruh gaya arsitektur Hindu Bali yang khas dengan tata ruang yang mengikuti konsep Tri Mandala. Konsep ini membagi area pura menjadi tiga bagian: Nista Mandala (bagian luar), Madya Mandala (bagian tengah), dan Utama Mandala (bagian dalam yang tersuci).
Pada tahun 2012, Pura Taman Ayun ditetapkan sebagai salah satu situs Warisan Dunia oleh UNESCO bersama dengan lima pura lainnya di Bali dalam satu kategori "Cultural Landscape of Bali Province: The Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy". Penetapan ini menjadi pengakuan internasional terhadap nilai budaya dan spiritual yang terkandung dalam pura ini.
Kembalinya I Made Sundana ke Mengwi menjadi titik balik bagi pelestarian Pura Taman Ayun. Ia menyadari bahwa pura ini membutuhkan perhatian serius untuk menjaga keaslian dan keindahannya. Dengan latar belakang pendidikan arsitekturnya, Sundana mulai merencanakan berbagai inisiatif untuk merestorasi dan mempertahankan keaslian pura ini.
Langkah pertama yang dilakukan Sundana adalah melakukan penelitian mendalam tentang sejarah dan struktur asli Pura Taman Ayun. Ia mengumpulkan dokumen-dokumen lama, foto-foto historis, dan mewawancarai para sesepuh desa yang memiliki pengetahuan tentang pura ini. Penelitian ini memakan waktu hampir dua tahun, namun hasilnya sangat berharga sebagai fondasi untuk perencanaan restorasi.
Setelah mendapatkan pemahaman yang komprehensif, Sundana mengajukan proposal restorasi kepada pemerintah daerah Badung dan juga kepada UNESCO. Proposal ini berisi rencana restorasi yang memperhatikan aspek pelestarian budaya, keberlanjutan, dan partisipasi masyarakat. Sundana berhasil meyakinkan berbagai pihak dan mendapatkan dana yang cukup untuk memulai proyek restorasi pada tahun 2000.
Salah satu kontribusi terbesar Sundana adalah sistematisasi proses restorasi yang melibatkan pengrajin lokal dengan keterampilan tradisional yang sudah langka. Ia berhasil menemukan dan mengajak 25 pengrajin tua yang masih menguasai teknik pembuatan ukiran batuan tradisional Bali. Para pengrajin ini tidak hanya berperan dalam proses restorasi, tetapi juga mentransfer ilmu mereka kepada generasi muda melalui program pelatihan yang didirikan oleh Sundana.
Sundana juga inovatif dalam mengembangkan sistem pengelolaan pura yang berkelanjutan. Ia memperkenalkan sistem tiket masuk yang terjangkau untuk wisatawan dengan ketentuan khusus bahwa sebagian dari hasil pendapatan digunakan untuk pemeliharaan pura dan pengembangan komunitas lokal. Sistem ini tidak hanya memberikan sumber pendanaan tetap untuk pemeliharaan pura, tetapi juga memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar.
Selain itu, Sundana mendirikan "Yayasan Puri Mengwi" yang bertujuan untuk mendokumentasikan sejarah dan budaya lokal, termasuk Pura Taman Ayun. Yayasan ini telah menerbitkan beberapa buku dan jurnal tentang sejarah pura, tradisi upacara, dan arsitektur tradisional Bali. Upaya dokumentasi ini sangat penting untuk memastikan bahwa pengetahuan tentang warisan budaya ini tidak hilang ditelan waktu.
Upaya I Made Sundana dalam melestarikan Pura Taman Ayun dan budaya Bali mendapatkan pengakuan luas. Pada tahun 2015, ia menerima penghargaan "Pemimpin Pelestari Budaya" dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam melestarikan warisan budaya nasional.
Kesuksesan restorasi Pura Taman Ayun juga menjadi contoh bagi proyek pelestarian warisan budaya lainnya di Indonesia. Banyak pemimpin lokal dan pejabat pemerintah mengunjungi Mengwi untuk belajar dari model pelestarian yang dikembangkan oleh Sundana. Ia sering diundang sebagai pembicara dalam seminar dan konferensi tentang pelestarian warisan budaya di tingkat nasional maupun internasional.
Lebih penting lagi, upaya Sundana telah berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat lokal terhadap pentingnya menjaga warisan budaya mereka. Generasi muda Mengwi sekarang lebih bangga dengan sejarah desa mereka dan lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan budaya di pura. Beberapa bahkan telah mengikuti jejak Sundana dengan mengejar pendidikan di bidang arsitektur, sejarah, dan budaya untuk dapat melanjutkan pelestarian warisan tersebut.
Saat ini, Pura Taman Ayun tidak hanya menjadi tempat ibadah dan wisata, tetapi juga pusat pembelajaran budaya. Yayasan yang didirikan Sundana secara rutin mengadakan pertunjukan seni tradisional, workshop kerajinan, dan edukasi sejarah bagi pelajar dan masyarakat umum. Pura ini telah bertransformasi menjadi ruang hidup yang dinamis, di mana tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan.
I Made Sundana, yang kini berusia 58 tahun, masih aktif dalam kegiatan-kegiatan pelestarian budaya di Mengwi. Ia mulai mendelegasikan sebagian besar tanggung jawab manajemen kepada generasi muda yang telah ia bina, namun tetap menjadi penasihat strategis untuk berbagai inisiatif pelestarian. Visinya adalah menciptakan sistem pelestarian yang mandiri dan berkelanjutan yang dapat terus berjalan tanpa bergantung pada kehadirannya secara personal.
Kisah sukses I Made Sundana dan Pura Taman Ayun di Bali adalah contoh nyata bagaimana komitmen, pengetahuan, dan kerja keras dapat menghasilkan dampak positif bagi pelestarian warisan budaya. Sundana telah membuktikan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran aktif individu dan komunitas memiliki arti yang sangat penting.
Melalui pendekatan ilmiah, penghargaan terhadap tradisi, dan pemangkatan kekuatan komunitas, Sundana berhasil membangun model pelestarian yang berkelanjutan dan dapat ditiru di tempat lain. Karyanya mengingatkan kita bahwa warisan budaya adalah aset tak ternilai yang menghubungkan kita dengan masa lalu sekaligus memberikan arah untuk masa depan.